Menyediakan
Waktu untuk Tuhan
Pukul 3 sore, hari Jumat. Liz baru saja menyelesaikan pelajaran
sehari penuh, dan ia bergegas kembali ke asrama untuk mengambil perlengkapan
latihan renang. Setelah latihan berenang, ia menyambar sedikit makanan sebelum
mempersiapkan pelajaran pendidikan agama untuk besok. Ada Pemahaman Alkitab
pukul 7:30 malam, tapi ia masih jauh dari siap untuk menyampaikan pelajaran.
Mungkin ia akan melewatkan Pemahaman Alkitab malam ini...
Sekarang sudah tengah malam, dan Liz sudah menyelesaikan persiapan untuk pelajaran besok, tapi ia melewatkan Pemahaman Alkitab karenanya. Kelelahan, ia berlutut, menggumamkan beberapa patah ucapan syukur, dan memanjat ke tempat tidur. Ia melihat Alkitabnya tergeletak di meja, dan memutuskan akan membacanya besok. Lagipula, ini hari Sabat, dan ia akan menghabiskan hampir sepanjang hari di gereja.
Berapa banyak di antara kita yang merasa terhubung dengan situasi seperti ini? Sering kali, kita merasa bahwa waktu sehari tidak cukup untuk melakukan segala sesuatu. Waktu - adalah sesuatu yang kita hargai, sesuatu yang kita harap dapat memilikinya lebih banyak, tapi tampaknya begitu cepat meluncur dari jari-jari kita.
Sebagai pelajar, kita sering dibebani dengan begitu banyak pekerjaan sehingga kita cenderung melewatkan hal-hal yang penting bagi diri kita: Tuhan dan iman kita. Berapa kali sudah kita mengesampingkan Tuhan karena jadwal kita yang sibuk? Berapa kali sudah kita melewatkan kebaktian karena kita harus menulis makalah? Berapa kali sudah kita bergegas ke sekolah tanpa mengucap syukur terlebih dulu kepada Tuhan atas satu hari lagi hidup kita dan hanya menggumamkan beberapa patah ucapan syukur beberapa detik sebelum melompat ke tempat tidur?
Kalau kita mengikuti gaya hidup yang sibuk dan hingar-bingar semacam ini, tidak aneh kalau Tuhan sering ditinggalkan. Kita punya kuliah yang harus dihadiri, makalah yang harus ditulis, dan ujian yang harus ditempuh. Bagaimana kita bisa melakukan semuanya dan menemukan waktu untuk Tuhan dalam kehidupan kita yang sibuk?
Artikel ini akan menyampaikan pentingnya menyediakan waktu untuk Tuhan, bagaimana melakukannya, dan hasil dari menyediakan waktu untuk Tuhan.
Sekarang sudah tengah malam, dan Liz sudah menyelesaikan persiapan untuk pelajaran besok, tapi ia melewatkan Pemahaman Alkitab karenanya. Kelelahan, ia berlutut, menggumamkan beberapa patah ucapan syukur, dan memanjat ke tempat tidur. Ia melihat Alkitabnya tergeletak di meja, dan memutuskan akan membacanya besok. Lagipula, ini hari Sabat, dan ia akan menghabiskan hampir sepanjang hari di gereja.
Berapa banyak di antara kita yang merasa terhubung dengan situasi seperti ini? Sering kali, kita merasa bahwa waktu sehari tidak cukup untuk melakukan segala sesuatu. Waktu - adalah sesuatu yang kita hargai, sesuatu yang kita harap dapat memilikinya lebih banyak, tapi tampaknya begitu cepat meluncur dari jari-jari kita.
Sebagai pelajar, kita sering dibebani dengan begitu banyak pekerjaan sehingga kita cenderung melewatkan hal-hal yang penting bagi diri kita: Tuhan dan iman kita. Berapa kali sudah kita mengesampingkan Tuhan karena jadwal kita yang sibuk? Berapa kali sudah kita melewatkan kebaktian karena kita harus menulis makalah? Berapa kali sudah kita bergegas ke sekolah tanpa mengucap syukur terlebih dulu kepada Tuhan atas satu hari lagi hidup kita dan hanya menggumamkan beberapa patah ucapan syukur beberapa detik sebelum melompat ke tempat tidur?
Kalau kita mengikuti gaya hidup yang sibuk dan hingar-bingar semacam ini, tidak aneh kalau Tuhan sering ditinggalkan. Kita punya kuliah yang harus dihadiri, makalah yang harus ditulis, dan ujian yang harus ditempuh. Bagaimana kita bisa melakukan semuanya dan menemukan waktu untuk Tuhan dalam kehidupan kita yang sibuk?
Artikel ini akan menyampaikan pentingnya menyediakan waktu untuk Tuhan, bagaimana melakukannya, dan hasil dari menyediakan waktu untuk Tuhan.
MENGAPA MENYEDIAKAN WAKTU UNTUK TUHAN?
"Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya." (Pkh. 3:1)
Menurut kata-kata Raja Salomo yang bijaksana, ada waktu untuk segala sesuatu: waktu untuk belajar dan waktu untuk bermain, waktu untuk mempelajari pengetahuan duniawi dan waktu untuk memperoleh hikmat rohani. Tapi terserah pada kita untuk mengatur waktunya, untuk menggunakan waktu kita dengan bijak dan membaktikan sebagian darinya untuk Tuhan.
Bayangkan bahwa, minggu demi minggu datang dan pergi, hari-hari kita dimulai dari pukul 8 pagi dan berakhir pada pukul 12 malam, tanpa waktu untuk berbicara kepada Tuhan kecuali selama beberapa detik sebelum tidur. Akan seperti apa iman dan hubungan kita dengan Tuhan? Kemungkinan besar akan lemah, atau tidak ada. Sama seperti hubungan lainnya, kita harus menghabiskan waktu bersama Tuhan untuk mengembangkan hubungan yang lebih dekat dan pribadi dengan-Nya.
Selain itu, menyisihkan waktu untuk Tuhan membuat kita tetap melihat apa yang penting - tujuan akhir kita, kerajaan surga. Iman kita berdampak langsung terhadap dapat atau tidaknya kita masuk ke surga - dan ini jelas adalah sesuatu yang layak kita beri waktu. Menghabiskan waktu bersama Tuhan bukan hanya berdampak pada tujuan akhir kita, tetapi juga membuat perbedaan besar dalam kehidupan kita sehari-hari. Puisi berjudul "Perbedaan" berikut ini menggambarkan betapa pentingnya bagi kita untuk datang ke hadirat Tuhan setiap hari untuk memperoleh kekuatan dan kedamaian dari Dia. Semakin sibuk dan semakin banyak tugas kita, semakin penting berdoa kepada Tuhan.
Aku bangun pagi-pagi suatu pagi,
Dan tergesa-gesa sepanjang hari;
Begitu banyak yang harus kutunaikan,
Tak ada waktu doa bisa kusediakan.
Masalah bergulung-gulung menimpaku,
Dan setiap tugas semakin berat terasa;
"Mengapa Tuhan tidak menolongku?" tanyaku,
Jawab-Nya, "Kau tidak minta."
Ku ingin melihat sukacita dan keindahan,
Tapi hari merambat kelabu dan suram;
Aku heran kenapa Tuhan tak mau memberi,
Kata-Nya, "Tapi kau tak mencari."
Ku coba masuk ke hadirat Tuhan,
Ku coba semua kunci pembuka pintu;
Lembut dan penuh kasih Tuhan menegur,
"Anak-Ku, kau tidak mengetuk."
Aku bangun pagi-pagi hari ini,
Dan jeda sebelum memulai hari;
Begitu banyak yang harus kutunaikan,
Maka waktu doa harus kusediakan.
BAGAIMANA MENJADWALKAN TUHAN DALAM KEHIDUPAN KITA
Membuat Janji dengan Tuhan
Cara yang baik untuk menempatkan Tuhan dalam kehidupan kita adalah dengan membuat janji dengan-Nya setiap hari. Kita harus menelaah kehidupan kita dan menentukan kapan waktu terbaik bagi kita untuk berkomunikasi dengan-Nya dan merenungkan firman-Nya. Bagi Raja Daud, yang terbaik adalah pagi hari dan malam hari:
Ya Allah, Engkaulah Allahku,
[pagi-pagi] aku mencari Engkau... (Mzm. 63:2)
Apabila aku ingat kepada-Mu di tempat tidurku,
merenungkan Engkau sepanjang kawal malam. (Mzm. 63:7)
Di pagi hari, sebelum memulai hari yang sibuk, kita dapat bersyukur kepada Tuhan karena telah memberi kita hidup satu hari lagi, memohon pimpinan dan perlindungan-Nya, dan memohon pertolongan-Nya agar menjadikan hari itu hari yang penuh makna dan dikenan Tuhan. Di malam hari, sebelum tidur, kita dapat meninjau hari kita bersama Tuhan, bersyukur atas pimpinan dan perlindungan yang Ia berikan, dan merenungkan perkara-perkara yang kita hadapi sepanjang hari.
Persembahkan Waktu yang Terbaik dari Hari Anda
Bagi beberapa orang, pertemuan dengan Tuhan di pagi dan malam hari mungkin tidak berhasil. Pagi hari mungkin terlalu awal - kita lelah dan kesal, dan sungguh sulit berlutut berdoa. Pada malam hari, kita mungkin terlalu lelah setelah bekerja sehari penuh, dan yang kita inginkan cuma merangkak ke tempat tidur.
Kita harus memilih waktu ketika kita tidak terlalu lelah dan ketika pikiran kita jernih untuk mempersembahkan yang terbaik bagi-Nya. Sama seperti Habel mempersembahkan ternaknya yang terbaik kepada Tuhan, kita harus mempersembahkan waktu yang terbaik dari hari kita kepada Tuhan.
Akhirnya saya berhasil menemukan rutinitas terbaik bagi diri saya pada tahun kedua saya di universitas. Walaupun pada pagi dan malam hari saya tetap berdoa, itu biasanya doa-doa pendek. Saya merasa bahwa saya harus menemukan waktu yang lebih baik untuk berdoa dengan khusyuk dan merenungkan firman Allah.
Saya mendapati bahwa waktu terbaik bagi saya adalah sekitar pukul 8 malam. Saya sudah belajar dan makan malam, maka itulah waktu untuk Tuhan. Sekalipun saya sedang mengerjakan makalah, saya akan meninggalkan semuanya dan memberikan satu jam untuk Tuhan. Selama waktu itu, saya akan menyanyikan pujian, membaca Alkitab, dan kemudian mengakhirinya dengan doa. Itu adalah waktu yang dihabiskan dengan baik, dan saya sungguh-sungguh menghargainya.
HASIL DARI MENYEDIAKAN WAKTU UNTUK TUHAN
"Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." (Mat. 6:33)
Begitu kita mendahulukan Tuhan, kita akan mengalami perbedaan yang sangat besar dalam kehidupan kita. Saya memperhatikan bahwa ketika saya menyediakan waktu untuk Tuhan dengan menjadwalkan satu periode bersama-Nya setiap malam, saya selalu menyelesaikan pekerjaan dalam jangka waktu yang lebih singkat. Saya akan sering mendapat ilham dari-Nya ketika sedang buntu pada suatu makalah.
Terlebih lagi, waktu yang saya sediakan untuk Tuhan juga menjadi pereda stres bagi saya. Karena pada jam itu, saya akan melupakan pelajaran-pelajaran saya dan berkonsentrasi pada Tuhan. Herannya, semasa hari-hari paling menekan, lirik-lirik suatu pujian atau ayat Alkitab akan selalu menjamah saya dan mengangkat beban saya. Saya benar-benar merasakan damai dan sukacita yang luar biasa di dalam hati selama masa-masa itu. Selama tahun terakhir di universitas, setiap kali saya kewalahan dengan pekerjaan, Tuhan memberi saya akal sehat yang saya perlukan.
Yesus menasihati kita dalam Matius 11:28-30:
"Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan."
Saya mendorong Anda untuk mencobanya, bahkan jika Anda hanya bisa memberikan dua puluh menit. Gunakan waktu itu untuk merenungkan firman-Nya dan untuk memberitahu Dia betapa menekannya hari yang Anda hadapi. Anda pasti akan merasakan perbedaan dalam kehidupan Anda. Selama kita mendahulukan Tuhan dalam kehidupan kita, kita benar-benar tak perlu kuatir tentang apa pun – segalanya akan berjalan lancar.
Dunia di sekitar kita selalu berusaha memperkenalkan cara-cara baru untuk melakukan segala sesuatu dengan lebih cepat – dari makanan cepat saji sampai instant messaging. Dalam masyarakat yang serba cepat seperti ini, mencari Tuhan tampaknya merupakan hal terakhir dalam benak kita. Tetapi, menyediakan waktu untuk Tuhan bisa berarti perbedaan antara menjadi seorang pelajar yang tertekan dan tergopoh-gopoh dengan menjadi seorang pelajar Kristen yang berhasil dan penuh kedamaian. Pilihan dan waktu ada di tangan Anda.


